Wednesday, 6 September 2017

Ragam hias

Ragam hias


PENGERTIAN RAGAM HIAS

Ragam hias disebut juga ornamen, merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang sudah berkembang sejak zaman prasejarah, Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya memilik banyak ragam hias.

Variasi ragam hias biasanya khas untuk suatu unit budaya pada era tertentu, sehingga dapat menjadi petunjuk bagi para sejarahwan atau arkeolog.

FAKTOR PENGARUH RAGAM HIAS

1.      Lingkungan alam

2.      Flora

3.      Fauna

4.      Manusia

Keinginan untuk menghias merupakan naluri atau insting manusia. Faktor kepercayaan turut mendukung berkembangnya ragam hias karena adanya perlambangan dibalik gambar. Ragam hias memiliki makna karena disepakati oleh masyarakat penggunanya.

Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara:

         Stilasi (digayakan)               = pengurangan ,penyederhanaan bentuk atau hanya menyisakan garis luar gambar.

         Deformasi(penambahan)  = penambahan dan perubahan bentuk

RAGAM HIAS NUSANTARA

Ragam hias Nusantara dapat ditemukan pada motif batik, tenunan, anyamantembikar, ukiran kayu, dan pahatan batu. Ragam hias ini muncul dalam bentuk-bentuk dasar yang sama namun dengan variasi yang khas untuk setiap daerah. Dalam karya kerajinan atau seni Nusantara tradisional, sering kali terdapat makna spiritual yang dituangkan dalam stilisasi ragam hias.

Terdapat ragam hias asli Nusantara, yang biasanya merupakan stilisasi dari bentuk alam atau makhluk hidup (termasuk manusia), dan ada pula ragam hias adaptasi pengaruh budaya luar, seperti dari TiongkokIndiaPersia, serta Barat.

PENGARUH MOTIF HIAS

Bagian besar motif hias dalam seni rupa Nusantara merupakan hasil karya bangsa kita tetapi tedapat juga yang berasal dari pengaruh asing. Hal tersebut lumrah terjadi karena kontak kebudayaan berlangsung secara alami. Contohnya adalah motif hias burung funiks, naga, awan dan batu karang yang berasal dari seni Cina banyak didapati pada karya seni rupa pesisir utara Pulau Jawa. Bunga teratai yang bermakna kelahiran berasal dari tradisi seni Hindu India dan banyak muncul pada arca atau relief candi. Beberapa motif hias bersifat universal karena diketemukan juga di negara lain, seperti meander, tumpal, dan swastika. Dengan motif hias yang beragam sesungguhnya kualitas karya seni rupa menjadi lebih baik. Hal tersebut dapat dilihat pada kesesuaian teknik, bahan, warna, tema, bentuk, dan makna simboliknya. Keterampilan yang akarnya sudah berumur ribuan tahun tersebut wajib kita lestarikan agar tidak punah

PENGELOMPOKAN MOTIF HIAS

a.      Motif Hias Flora

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJVBeXd7LQ-Sm5QhsYq6HB0a4g9zOJXMsSciLV6CwfNe134POnjqBm0Zgc9x7ox7vHNpEUYrVmpDj_ZDGjCeMQnt6rgzqMtr4pV90lGYWAyCOUTW_DZ4oXfA3liY-OpSIPsDB5rHnJh6g/s1600/stilasi-pohon.jpg

Motif hias ini berdasarkan pada tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitar. Bentuknya ada yang berupa akar, daun, bunga, biji, tunas, buah, ranting, atau pohonnya. Contohnya adalah motif hias bunga teratai yang dalam ajaran Buddha berhubungan dengan simbol kelahiran. Contoh yang lain adalah motif hias pohon kehidupan (kalpataru) yang diterapkan pada gunungan wayang. Nilai simbolik yang terdapat pada pohon tersebut adalah dunia tempat tinggal manusia saat ini yang dibagi menjadi dunia atas tempat para dewa bertahta dan dunia bawah tempat mahluk biasa tinggal.

b. Motif Hias Fauna

Description: http://htmlimg4.scribdassets.com/3gs1nkgszk25wp6h/images/10-97fb1940c1.jpg

Fauna atau satwa menjadi dasar terbentuknya motif hias ini. Satwa darat, air atau yang hidup di udara dan bahkan ada pula satwa khayal dibuat sebagai motif hias. Kadal, kerbau, belalang, ikan, ular, kuda, singa, gajah, burung, rusa, dan mahluk ajaib naga atau makara (ikan berbelalai) adalah beberapa satwa yang sering dijadikan motif hias. Nilai simbolik tampak pada seekor satwa berkenaan dengan alam kehidupan. Sebagai contoh ular mewakili dunia bawah atau air yang bermakna sebagai pembawa jenazah mendiang untuk menyeberang dan burung dianggap mewakili dunia atas yang membawa arwah ke alam atas.

c. Motif Hias Geometri

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHeD8Bcg7nLLpfrLHg7SF33ox92x3IpFfPMgU61uYq6sQcLKCfgdsgRyhmCUvwZkbl4Jfl5s6BIEjaBnw86vaKs1PCTiJqnjpn07sFP0ACSZE9DuDQd0KQ1HKoLsFEqY7IOeeFmDAvoblt/s1600/lasem3.jpg

Motif hias geometris atau sering disebut juga ilmu ukur mulanya muncul karena faktor teknik dan bahan. Pada kriya anyaman serat membujur dan melintang membentuk motif hias yang geometris, yaitu serbalurus, lengkung atau lingkar. Motif hiasnya terdiri atas tumpal (segitiga), meander (liku-liku), pilin, kunci, banji, swastika. Motif hias swastika bermakna lambang matahari atau peredaran bintang yang berkaitan dengan nasib baik. Swastika dalam bentuk bersambung disebut banji yang bermakna harapan baik.

d. Motif Hias Manusia

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpH_UOnFfqaOWU_Q8GzwsWjAgKpDh2cgF52KQ1fxqe-nqcJ-sKrAiEt4tfArOlCe_dd3-oytzUjTqrftPeXk1a9xQHMl1HGQmWHXwoZdV9YhaaMR1YFOi7fGGVd0SNfacpPrlMLIL8nfqu/s1600/manusia.jpg

Manusia dalam bentuk motif hias sering dimunculkan juga pada karya seni rupa Nusantara. Ada yang digambarkan utuh seluruh tubuh seperti pada wayang kulit purwa dan ada pula yang digambarkan hanya bagian kepala saja. Wajah manusia (topeng) yang dijadikan motif hias dibuat dengan gaya yang disederhanakan atau sebaliknya, dilebih-lebihkan. Maknanya sebagai penolak bala dan penggambaran nenek moyang. Contoh motif hias ini di antaranya adalah kala pada bangunan candi dari zaman Hindu dan juga diterapkan pada tenun ikat di Sumba.

e. Motif Hias Kaligrafi

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLh5tZJq-T-HOVXmDz8VjT8BBKNH3zFVEovXPubkoUpkSlQPa9QlrZ1INlKgPlAspY3cvW2dgx_qULxYvLCmrT-VgPNp3Vk8OOeujO2e6J-lhwsK0WDk4Gibj7Bn6LSS1Za1gWmk8baWA/s1600/kain1.jpg

Huruf yang ditulis indah disebut kaligrafi. Pada masa kekuasaan kerajaan Islam di Nusantara kaligrafi huruf Arab yang disebut khath menjadi salah satu motif hias yang sering dipakai. Motif hias yang sebagian merupakan nama Allah atau petikan ayat dari Alquran dan Hadis biasa diterapkan pada kriya logam, kayu, kain, motif hias kaligrafi Arab pada kain batik dan sebagainya.

f. Motif Hias Lain

Description: http://wisnujadmika.files.wordpress.com/2013/02/megamendung_blue-handri-wordpress-com.jpg

Motif hias gunung suci (mahameru), bukit batu, awan, roda matahari, lidah api, perahu, pemandangan, dan untaian manik-manik termasuk jenis kelompok ini. Semuanya juga memiliki nilai perlambangan. Mahameru yang merupakan motif hias khas Hindu berkenaan dengan alam atas, yakni tempat bersemayam para dewa. Lidah api melambangkan kesaktian. Perahu merupakan lambang kendaraan arwah menuju ke alam keabadian dalam kepercayaan kuna.

g. Motif figurative (figural)
Description: Motif Figuratif

Ragam hias Figuratif objeknya manusia .Biasanya digunakan pada bahan tekstil (dan kayu)





Teknik menggambar ragam hias 
Dalam menggambar ragam hias memiliki aturan sebagai berikut
1. Perhatikan pola bentuk ragam hias yang akan di gambar
2. Persiapkan alat dan media gambar
3. Tentukan ukuran pola gambar yang akan di buat
4. buatlah sketsa ragam hias yang telah di tentukan
5. berilah warna pada gambar ragam hias

MOTIF RAGAM HIAS DAERAH

Motif Hias di Indonesia sangat beragam, macam-macam motif hias ini sering kita temukan pada karya seni kriya yang di ciptakan di wilayah nusantara, baik penggunaan motif hias yang sudah terpengaruh dengan gaya modern, ataupun seni kriya yang masih mempertahankan gaya motif hias lama atau klasik. Namun motif yang kami bagikan kali ini adalah motif klasik tradisional yang berkembang pada zaman islam di Jawa yang telah yang mencapai puncak kejayaan pada zaman kerajaan-kerajaan besar di Jawa dan sekitarnya.

1. Motif Ragam Hias Padjajaran

Motif Ragam Hias Padjajaran berbentuk ukel dari daun pakis dan bentuknya serba bulat. Bentuk ukel seperti tanda koma, Angkupnya berbentuk bulat juga. Ujung ukel berbentuk patran miring. Motif Ragam Hias Padjajaran ini dapat kita lihat di Makam Sunan Gunung Jati, pada suatu bangsal dari kayu berukir. Menurut sejarah, semula adalah bangsal Taruma Negara dari Kerajaan Prabu Siliwangi. Makam tersebut terletak di dekat sungai Citarum di daerah Cirebon. Motif Ragam Hias Padjajaran diketemukan oleh Dinas Purbakala.

Description: Ragam Motif Hias Klasik Tradisional  Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7rhtYyyv75JQV5_BFSYsm0Hm9GU2Ox5uLI0AkHJ4_lOSHGJ3YhAe57u_ux8njB0oVYv1KrFPcanQUdOtvKj9LLI6MHHcvcMjHaq_6ORmIBjRtaC_fC7pXJ_TbU2iPntiU2YtX-Cks-RM1/s320/mm+pejajaran.jpg

Pokok dan Dasar Motif Padjajaran:

Bagian Pokok: Cembung,semua daun atau bunga besar maupun kecil, dibuat cembung (bulat).
Angkup: Mempunyai beberapa angkup antara lain angkup besar, angkup tanggung, angkup kecil.

Culo: Ialah unsur  yang penting untuk mengetahui bahwa itulah motif Padjajaran. Lain dari pada itu tanda culo, berbentuk cembung. Motif Padjajaran besar maupun tanggung dan kecil ada culonya.

Endong: Ialah sehelai daun yang selalu digendong oleh daundaun pokok (daun yang besar) atau suatu trubusan yang selalu tumbuh di belakang daun pokok.
Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuhnya pada daun besar atau daun pokok yang berdampingan dengan tangkai angkup.
Benangan: Yaitu gagang yang terletak di bagian muka ulir atau daun melingkar menuju ulir atau hiasan yang berwujud seperti benang di bagian sehelai daun. Bentuk ini menambah manis dan cantiknya motif tersebut.
Pecahan: Ialah garis penghias daun; bentuk pecahan ini diselaraskan dengan motif tersebut.



2. Motif Ragam Hias Majapahit

Ragam Hias Majapahit berbentuk bulatan dan krawingan (cekung) dan terdiri dari ujung ukel dan daun-daun waru maupun pakis. Dalam raga mini patran (daun) diwujudkan krawing (cekung). Bentuk Ragam Hias Majapahit untuk ragam pokok berbentuk seperti tanda Tanya.
Ragam-ragam ini terdapat pada bekas-bekas potongan batu yang hanya sedikit, dan pada potongan kayu yang sudah rusak. Ragam Majapahit diketemukan oleh Ir. H. Maclaine Pont, seorang pejabat pada Museum Trowulan dan juga dapat dilihat pada tiang Pendopo Masjid Demak. Menurut sejarah tiang tersebut merupakan benda peninggalan kerajaan Majapahit yang dibawa oleh R. patah.

Description: Ragam Motif Hias Klasik TradisionalDescription: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjezrzXod0E3-uG9L_SM9KC9GeJk-RrlavggPCD7Afrxn968qNC-zu5QK5Rl3xCrdmsnXFOI88LcAa8KUXEaAV4ro4wMNxkhMc8wRWffDEkKsudS07yOugiuU3nZ2-va-WLrBVcjJDuGY5a/s1600/motif-majapahit.jpg

Pokok dan dasar Motif Hias Majapahit

Bagian Pokok: Campuran cekung dan cembung, memang daun ini merupakan campuran yang sesuai untuk menambah baiknya motif tersebut.
Angkup: Ragam ini mempunyai dua angkup, yang berbentuk cembung dan cekung memakai ulir menelungkup pada sehelai daun pokok.
Jambul: Ragam ini mempunyai jambul susun dan jambul satu. Ini suatu tanda untuk daun-daun pokok atau daun lainnya. Jambul yang satu untuk daun yang tanggung. Adapun daun kecil tidak memerlukan jambul. Jambul ini diletakkan di muka bagian atas ulir pada penghabisan ulir angkup.
Trubusan: (daun semi) ialah sehelai daun yang terletak di atas angkup atau daun besar berebentuk bulat atau cekung (krawing), baik daun tanggung maupun daun kecil.
Benangan: Sama dengan motif Padjajaran, hanya bedanya jika motif Majapahit mempunyai benangan rangkap. Benangan rangkap ini dipakai pada daun yang besar dan benangan satu pada daun yang tanggung.
Simbar: Ialah sehelai daun tambahan yang tumbuh pada daun besar atau pokok daun pada bagian bawah, berdampingan dengan tangkai angkup.
Pecahan: Sama dengan pada motif Padjajaran

3. Motif Ragam Hias Bali

Motif Ragam Hias Bali hampir sama dengan Ragam Hias Padjajaran. Bedanya terletak pada ujung ukel dihiasi dengan sehelai patran. Jadi ukel besar kecil, bulat cekung, pecahan, ada pula daun yang runcing. Ragam Hias bali oleh orang Bali dinamakan Patre Punggel. Ragam ini dapat dilihat di pura sebagai hiasan pintu masuk. Juga di kota-kota besar yang sudah banyak didapatkan patung-patung Bali Klasik.